http://www.kellymom.com/nutrition/mom/mom-foods.htmlBolehkah ibu menyusui mengkonsumsi makanan ini ? FAQs
By Kelly Bonyata, IBCLC
Ada gak sih makanan yang harus dihindari selama masa menyusui ?
Jawabannya tentu saja TIDAK ADA makanan yang perlu dihindari selama ibu
menyusui. Umumnya ibu menyusui boleh makan apa saja dan kapan saja serta
berapa banyakpun jumlahnya. Kecuali jika ada tanda-tanda (reaksi) jelas pada
bayi terhadap suatu makanan. Tidak ada "Daftar makanan yang tidak boleh
dimakan ibu menyusui", karena kebanyakan ibu menyusui dapat mengkonsumsi
apapun yang mereka inginkan. Memang ada beberapa bayi yang sensitif terhadap
jenis makanan tertentu. Tapi sekali lagi ini bersifat unik. Misalkan jika
ibu memiliki riwayat alergi, maka ibu mungkin akan menghindari makanan
tertentu tsb. Namun bukan berarti anak juga akan laergi terhadapa makanan
tersebut.
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di :
a.. How does mom's diet affect her
milk?(
http://www.kellymom.com/nutrition/mom/mom-diet.html)
b.. My baby is gassy. Is this caused by something in my diet?
(
http://www.kellymom.com/babyconcerns/gassybaby.html)
Boleh gak ibu menyusui makan makanan yg pedas atau makanan beraroma tajam ?
Boleh kok ! Menurut hasil penelitian, ibu-ibu yang rutin mengkonsumsi
makanan pedas dan makanan yg beraroma tajam, tidak menunjukkan reaksi buruk
pada bayi seperti kembung, rewel atau masalah lainnya. Makanan yang beraroma
tajam, seperti bawang putih, yang ibu konsumsi dapat masuk ke dalam ASI.
Tapi kondisi ini sama sekali tidak menyebabkan masalah pada bayi. Bahkan,
satu studi menunjukkan bahwa bayi relatif menyusu lebih baik pada ibunya
setelah sang ibu makan bawang putih.
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di :
Do you need to avoid garlic or spicy foods? by Debbi Donovan, IBCLC
Benarkah mengkonsumsi makanan yg "ber-gas" akan membuat bayi menjadi kembung
?
Umumnya ibu menyusui seringkali diingatkan untuk berhati-hati mengkonsumsi
makanan "ber-gas", seperti brokoli, kol, kacang-kacangan, dsbnya. Namun
demikian, makanan tersebut memiliki efek yang sama dengan makanan lainnya.
Mengkonsumsi makanan tertentu bisa jadi menyebabkan ibu "kembung" atau
ber-gas. Hal ini disebabkan proses pemecahan karbohidrat (gula, pati, serat)
oleh bakteri pada usus besar (lihat Gas in the digestive tract).
Bagaimanapun, ASI dibuat dari apapun yg dapat masuk melalui darah ibu, bukan
apa yang ada di lambung ibu ataupun sistem pencernaannya. Jadi ber-gas atau
tidak ber-gas suatu makanan, tidak akan masuk ke dalam ASI melalu darah ibu.
Sehingga ASI dari ibu yg mengkonsumsi makanan ber-gas akan membuat bayi
menjadi kembung (ber-gas).
Bukan berarti bayi tidak akan mengalami kembung karena sensitif thd satu
makanan. Tetapi satu hal yg pasti bahwa kembungnya sang bayi bukan
dikarenakan apapun yang ibu konsumsi.
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di :
My baby is gassy. Is this caused by something in my diet?
Benarkah jika ibu mengkonsumsi makanan yg asam akan membuat asi menjadi asam
?
Tidak benar. Makanan yg asam spt jeruk, tomat, dll tidak akan membuat ASI
menjadi asam.
Benarkah jika ibu menkonsumsi gula terlalu banyak atau mengurangi/banyak
makanan berlemak akan mempengaruhi ASI ?
Tidak benar. ASI tidak dipengaruhi oleh banyaknya gula yg ibu konsumsi.
Sebagai tambahan, lemak dan kalori yang terdapat dalam ASI tidak akan
dipengaruhi oleh makanan yg ibu konsumsi. Namun, beberapa jenis lemak dalam
ASI dapat berubah karena makanan.
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di :
Does Mom's sugar intake affect her breastmilk? by Debbi Donovan, IBCLC
What affects the amount of fat or calories in mom's milk?
(
http://www.kellymom.com/nutrition/milk/change-milkfat.html)
Is my exclusively breastfed baby gaining too much weight?
(
http://www.kellymom.com/babyconcerns/growth/weight-toomuch.html)
How might I increase baby's weight gain?
(
http://www.kellymom.com/babyconcerns/growth/weight-gain_increase.html)
Bolehkah ibu menyusui minum minuman bersoda (yg reguler ataupun diet) ?
Soda umumnya mengandung karbonasi, kafein dan/atau pemanis buatan.
Boleh gak ibu menyusui minum kopi atau soda yg mengandung kafein ?
Breastfeeding and Caffeine
(
http://www.kellymom.com/health/lifestyle/caffeine.html)
Bolehkah ibu menyusui mengkonsumsi makanan/minuman pemanis buatan ?
Nutrasweet (aspartame)
Berdasarkan Hale (Medications and Mothers' Milk, 2004), kadar Nutrasweet
(aspartame) dalam ASI terlalu rendah untuk menyebabkan efek samping pada
bayi yg tidak memiliki PKU (phenylketonuria). Memang ada kontraindikasi pada
bayi dg PKU yg baik. Hale membuat daftar aspartam dalam resiko laktasi
kategori L1 (teraman), tetapi L5 (kontraindikasi) jika bayi memiliki PKU.
Splenda (sucralose)
Belum banyak penelitian mengenai sucralose. Meski demikian produsen dari
sucralose menyatakan bahwa produk tsb aman utk ibu menyusui. Sekalilagi
tidak ada penelitian sejauh ini tentang ibu menyusui, anak atau bayi.
Sucralose relatif sulit diserap oleh sistem pencernaan (11-27% dari total
data responden laki-laki). Sehingga ada indikasi kemungkinan produk tsb
tidak akan masuk ke dalam ASI dalam jumlah yg signifikan.
Sorbitol
Sorbitol adalah gula alkohol yg secara alami ditemukan buah-buahan dan
sayuran dan biasanya digunakan sebagai pemanis pada makanan dan obat-obatan.
Produk ini tidak tercantum dalam Hale, tetapi sepertinya tidak pernah
ditemukan masalah dalam menyusui. Biasanya produk ini ditemukan di pasta
gigi, permen karet bebas gula, dsbnya.
Saccharin
Berdasarkan Hale, kadar sakarin pada ASI terlihat makin terakumulasi dari
waktu ke waktu. Namun kondisi ini masih dianggap minim. Pemakaian secara
berulang (bukan dalam jumlah byk) seharusnya tidak menjadi masalah bagi ibu
menyusui. Hale mengklasifikasikannya dg kategori resiko laktasi di L3
(moderately safe atau relatif aman).
Stevia (Stevia rebaudiana)
Stevia adalah sejenis pemanis dari herbal yang digunakan sebagai pengganti
gula yang zero-calorie. Biasanay digunakan di Jepang sebagai pengganti gula,
tetapi belum disahkan penggunaannya di Amerika Serikat oelh FDA. Sejauh ini
belum ada studi yang diakukan pada ibu menyusui, anak dan bayi untuk produk
ini. Beberapa laporan menyebutkan bahwa dalam dosis normal, produk ini tidak
membahayakan dan penggunaan sedikit sekali produk ini diduga relatif aman
untuk ibu menyusui
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di :
Is aspartame a concern? by Debbi Donovan, IBCLC
Safety of sucralose from the Splenda website
Artificial sweeteners by William Sears, MD (general info, not breastfeeding
related)
Artificial sweetener info from Dr. Jay Gordon (general info, not
breastfeeding related)
Butchko HH, et al. Aspartame: review of safety. Regul Toxicol Pharmacol.
2002 Apr;35(2 Pt 2):S1-93.
Aspertame from the Hazardous Substances Database (HSDB), National Library of
Medicine
Spiers PA, et al. Aspartame: neuropsychologic and neurophysiologic
evaluation of acute and chronic effects. Am J Clin Nutr. 1998
Sep;68(3):531-7.
American Academy of Pediatric Committee on Drugs. "Inactive" Ingredients in
Pharmaceutical Products: Update (Subject Review). Pediatrics 1997 (January);
99(1):268-278. This policy statement from the AAP does not have information
specific to breastfeeding mothers, but is interesting and useful as it
discusses some adverse effects of various "inactive" ingredients in
medications including artificial sweeteners.
Boleh gak ibu menyusui minum madu ?!
Tidak masalah jika ibu menyusui mengkonsumsi madu. Flora usus pada sistem
pencernaan orang dewasa dapat mengeliminir spora botulism dalam madu,
sehingga tidak membahayakan. Karena spora tsb dimatikan oleh sistem
pencernaan ibu, maka jelas spora tsb tidak akan masuk ke dalam aliran darah
dan tidak mungkin akan masuk ke dalam ASI.
Pada sistem pencernaan bayi, spora botulism tidak dapat dimatikan, sehingga spora tsb akan berkolonisasi dalam sistem pencernaan, berkembang biak dan melepaskan racun botulinum neurotoxin. Karena itu madu tidak direkomendasikan untuk bayi < 1 th. Oleh karena itu direkomendasikan agar menghindari memberikan makanan yg mengandung madu pada bayi atau pastikan makanan diproses dg baik agar semua spora botulism mati. Untuk mematikan spora tsb, makanan harus dimasak pada suhu 240 derajat Farenheit (gunakan pressure cooker) selama 15 menit. Spora botulism sangat resisten terhadap suhu tinggi, karena itu dibutuhkan 6 jam pada suhu 212 derajat Farenheit untuk mematikan spora. Racun botulinum itu realtif kurang resisten, sehingga pemasakan makanan dg suhu 212 derajat Farenheit selama 10 menit akan merusak racun tsb. Informasi lebih lanjut dapat dibaca di :
Is It Safe for Pregnant Women and Young Children to Eat Honey?
Honey accidentally eaten by baby
Tanzi MG, Gabay MP. Association between honey consumption and infant
botulism. Pharmacotherapy 2002 Nov;22(11):1479-83.
Infant botulism from FamilyPracticeNotebook.com
Bolehkan ibu menyusui makan makanan yg mengandung vetsin atau MSG ?
ASI umumnya mengandung gugus glutamat bebas (sekitar 22 mg/100g milk). Kadar
MSG pada ASI dari ibu yg mengkonsumsi MSG relatif ringan[FSANZ 2003, IFICF
2001, Stegink 1972]
AAP (American Academy of Pediatrics) mempertimbangkan bahwa MSG relatif
tidak masalah bagi ibu menyusui [AAP 2001].
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di :
MSG and Pregnant & Lactating Women from the International Food Information
Council Foundation [this is an excerpt of the information on pregnancy &
lactation from the below reference IFICF 2001]
Committee on Drugs, American Academy of Pediatrics. The Transfer of Drugs
and Other Chemicals Into Human Milk. Policy Statement. Pediatrics. 2001
Sept;108(3):776-789. [See Table 7: Food and Environmental Agents: Effects on
Breastfeeding.]
Food Standards Australia New Zealand (FSANZ). Monosodium Glutamate: A Safety
Assessment. Technical Report Series No. 20. Canberra, Australia: Food
Standards Australia New Zealand; 2003 June.
International Food Information Council Foundation (IFICF). Glutamate and
Monosodium Glutamate: Examining the Myths. Washington, DC: International
Food Information Council Foundation; 2001 Nov. 12 pp. [See p. 2-3.]
Stegink LD, Filer LJ Jr, Baker GL. Monosodium glutamate: effect of plasma
and breast milk amino acid levels in lactating women. Proc Soc Exp Biol Med.
1972 Jul;140(3):836-41.
General information:
MSG: A Common Flavor Enhancer by Michelle Meadows, from FDA Consumer
magazine, U.S. Food and Drug Administration, January-February 2003
Everything You Need To Know About Glutamate And Monosodium Glutamate from
the International Food Information Council Foundation, January 1997
U.S. Food and Drug Administration. Monosodium Glutamate. FDA Medical
Bulletin. 1996 Jan;26(1).
Scientific Committee for Food. Reports of the Scientific Committee for Food
(Twenty-fifth series): First series of food additives of various
technological functions. EUR 13416. Luxembourg: Commission of the European
Communities; 1991. 25 pp. [see p. 16/p. 21 of PDF file]
Haruskan ibu menyusui menghindari jenis ikan tertentu ?
Petunjuk dari FDA masih dalam proses pembaharuan
(
http://www.fda.gov/bbs/topics/ANSWERS/2003/ANS01270.html).
Namun sehubungan dengan resiko kadar tinggi metil merkuri pada bayi baru
lahir, US Food & Drug Administration menyarankan agar ibu hamil menghindari
memakan beberapa jenis ikan, seperti : hiu, ikan todak, king mackeral dan
tile fish (sejenis ikan besar yg terindikasi dapat mengakumulasi merkuri
dalam jumlah tinggi). Menurut FDA, "Sudah ditemukan secara pasti bahwa
kandungan metil merkuri dalam ikan relatif berbahaya bagi sistem syaraf
janin, oleh karena itu alangkah bijaknya jika ibu menyusui dan bayi tidak
mengkonsumsi jenis ikan tsb". FDA juga merekomendasikan hal yang sama untuk
konsumsi kerang, ikan kaleng, ikan laut kecil tidak lebih dari 12 ons per
minggunya.
Rekomendasi lainnya tentang daftar FDA untuk ikan yang tidak aman
dikonsumsi.
Lihat Mercury In Your Fish by Ken Cook, President of the Environmental
Working Group, untuk informasi jelasnya dan daftar ikan yang aman dan tidak
aman dikonsumsi selama hamil.
Bagaimana dengan tuna ? Menurut FDA, ibu menyusui dapat mengkonsumsi tuna
dengan porsi mingguannya. FDA melabel tuna segar ataupun tuna kaleng sebagai
"Fish and Shellfish With Much Lower Mercury Levels." atau ikan yg memiliki
tingkat merkuri rendah. Varietas ikan yang tidak disarankan oleh FDA dan
harus dihindari adalah ikan yg mengandung metilmerkuri sekitar 0.96-1.45 PPM
(parts per million). Tuna segar memiliki kadar 0.32 PPM dan tuna kaleng 0.17
PPM. Steak tuna dan tuna albacore kaleng umumnya mengandung jumlah merkuri
lebih tinggi dari tuna kaleng. Sementara itu di sisi lain, Environmental
Working Group menyarankan agar ibu hamil menghindari mengkonsumsi steak tuna
dan memakan tuna tidak lebih dari sekali dalam sebulan.
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di :
Breastfeeding and Mercury Exposure
Draft Advice For Women Who Are Pregnant, Or Who Might Become Pregnant, and
Nursing Mothers, About Avoiding Harm To Your Baby Or Young Child From
Mercury in Fish and Shellfish. (Dec. 10, 2003). US Food & Drug
Administration.
Mercury Levels in Fish from the Maine Environmental Health Unit
Mercury In Your Fish by Ken Cook, President of the Environmental Working
Group
State Advisories on Methylmercury in Fish
FDA Announces Comprehensive Foods Advisory on Methylmercury. FDA Talk Paper,
December 10, 2003.
FDA Consumer Advisory re: Mercury in Fish (March 2001)
Mercury Levels in Seafood Species (May 2001) Lists various varieties of fish
and seafood along with methylmercury levels in each.
Environmental contaminants and breastfeeding
(
http://www.kellymom.com/health/chemical/env-contaminants.html)
Ibu menyusui boleh makan sushi gak ?
Ya, Pilihlah jenis ikan yg relatif baik dan aman dikonsumsi. Seperti makanan
mentah lainnya, sushi dapat mengandung parasit atau bakteri listeria
monocytogenes (informasi lanjut dapat dibaca di listeriosis), dan beberapa
jenis ikan harus dihindari karena memilki kandungan merkuri tinggi. Hasil
konsensus para ahli laktasi sepakat menyatakan bahwa mengkonsumsi ikan
mentah sushi tidak bermasalah bagi ibu menyusui dan bayi yang disusuinya
(meski tetap saja ada potensi).
Informasi lanjut :
Can a nursing mom eat sushi? by Debbi Donovan, IBCLC
Bolehkah ibu menyusui memakan keju jenis unpasteurized soft cheeses ?
Boleh. Unpasteurized soft cheeses atau keju lunak yg tidak dipasterurisasi
(dan jenis produk unpasteurized dairy lainnya) dapat membawa bakteri
listeria monocytogenes. Keju yg dibuat di Amerika Serikat harus dibuat dari
susu pasterurisasi (pasteurisasi akan membunuh kuman listeria), tetapi keju
impor bisa jadi masalah tersendiri. Listeriosis biasanya ditandai dengan
gejala minor seperti flu (flu-like illness) pada orang dewasa yg sehat.
Tetapi dapat menjadi masalah serius bagi ibu hamil dan seringkali
dihubungkan dengan masalah kelahiran bahkan keguguran (krn kuman listeria
dapat masuk ke janin melalui plasenta). Meskipun mengkonsumsi produk susu
unpasteurized tidak direkomendasikan bagi ibu hamil, tidak menjadi masalah
bagi ibu menyusui.
Menurut Lawrence (Breastfeeding: A guide for the medical profession 1999, p
569), "tidak ada bukti dalam literatur manapun yang menyebutkan bahwa kuman
listeria dapat masuk ke dalam ASI." Referensi ini mengindikasikan bahwa ibu
menyusui dapat sakit (akibat mengkonsumsi produk susu yg tidak
dipasterusasi) dan sakitnya itu menghambat sang ibu untuk menyusui bayinya.
Makanan lain yang mengandung listeria yang diduga aman dikonsumsi oleh ibu
menyusui (tapi tidak aman untuk ibu hamil) :
Hot dog dingin (cold hot dogs), daging luncheon, atau deli meats
Keju lunak (Soft cheeses) seperti feta, Brie, Camembert, blue-veined
cheeses; dan Mexican-style cheeses seperti "queso blanco fresco"
Refrigerated pâté atau meat spreads
Refrigerated smoked seafood (not part of a cooked dish)
Susu yg tidak dipasteurisasi
Source: ·
Listeriosis and Pregnancy: What is Your Risk?
More information:
Listeriosis information from the US Centers for Disease Control
Is it safe to eat soft cheese when you're pregnant? by Jill Stovsky, MA
Amankah ibu menyusui makan kacang dan selai kacang ?
Di dunia ini, alergi terhadap kacang berkisar 1%. Satu dari 4 individu yg
alergi memiliki gejala alergi yang cukup parah, seperti masalah dg
pernafasan dan pencernaan. Menghindari kacang dan produk kacang selama
trimester ketiga kehamilan dan masa menyusui umumnya direkomendasikan bagi
ibu yg alergi thd kacang. Umumnya karena bayi memiliki resiko alergi thd
makanan tersebut juga.
Hindari betul mengkonsumsi kacang dan produk kacang selama masa menyusui,
JIKA :
a.. Keluarga dekat (ayah, ibu, kakak kandung) memiliki riwayat alergi
makanan, asma atau eksim
b.. Kerabat memiliki riwayat alergi kacang
c.. Bayi memiliki riwayat asma, eksim atau alergi makanan
d.. Bayi memiliki riwayat alergi terhadap telur dan eksim yg cukup parah
Jika dalam keluarga (termasuk sang bayi) tidak ada riwayat alergi makanan,
asma atau eksim, ibu dapat mengkonsumsi kacang. Ahli alergi umumnya
merekomendasikan agar anak tidak mengkonsumsi kacang atau produk kacang
hingga berusia 36 bulan. Karena alergi kacang relatif berbahaya dan kacang
itu sendiri tidak esensial bagi makanan, maka tidak ada salahnya untuk
menghindari mengkonsumsinya untuk amannya.
Informasi lanjut
Peanut Allergy and Breastfeeding from the Massachusetts Breastfeeding
Coalition
Peanuts, Folic Acid and Peanut Allergies from the March of Dimes
Some Moms Should Avoid Peanut Products While Nursing (news story from WebMD)
Page last modified: 06/19/2005
Written: 05/18/1998
klik disini untuk
tehnik memerah ASIFAQ Seputar Penyimpanan ASI BERAPA LAMA ASI HASIL POMPA/PERAS BISA DISIMPAN PADA SUHU RUANG?
Jika ruangan tidak ber-AC, disarankan tidak lebih dari 4 jam
Jika ruangan ber-AC, bisa sampai 6 jam
-catatan: suhu di atas harus stabil, misalnya ruangan ber-AC, tidak mati
sama sekali selama botol ASI ada di dalamnya.
BERAPA LAMA ASI HASIL POMPA/PERAS BISA DISIMPAN PADA SUHU LEMARI ES?
Jika Ibu mengetahui bahwa dalam 4 jam ke depan ASI hasil pompa/peras tidak akan diberikan pada bayi, maka segeralah simpan di lemari es. ASI ini bias bertahan sampai 8 (delapan) hari dalam suhu lemari es, jika ditempatkan dalam compartment yang terpisah dari bahan makanan lain yg ada di lemari es tsb.
Jika lemari es Ibu kebetulan tidak memiliki compartment terpisah untuk
menyimpan botol ASI hasil pompa/perasan, maka sebaiknya ASI tersebut jangan disimpan lebih dari 3 x 24 jam.
Ibu juga dapat "membuat" compartment terpisah dengan cara menempatkan botol ASI dalam container plastik yang tentunya dibersihkan terlebih dahulu dengan baik.
BERAPA LAMA ASI HASIL POMPA/PERAS BISA DISIMPAN PADA SUHU FREEZER?
ASI hasil pompa/perasan dapat disimpan dalam freezer biasa sampai 3 (bulan) lamanya. Namun Ibu jangan menyimpan ASI ini di bagian pintu freezer, karena bagian ini yang mengalami perubahan dan variasi suhu udara terbesar. Jika Ibu kebetulan memiliki freezer penyimpan daging yang terpisah (biasanya disebut deep freezer) yang umumnya memiliki suhu lebih rendah dari freezer biasa, maka ASI hasil pompa/perasan bahkan dapat disimpan sampai dengan 6 (enam) bulan di dalamnya.
BAGAIMANA CARA MENYIMPAN ASI HASIL POMPA/PERASAN YANG BAIK?
- Simpan ASI dalam botol yang telah disterilkan terlebih dahulu
- Botol yang paling baik sebetulnya adalah yang terbuat dari gelas/beling,namun jika terpaksa menggunakan botol plastik, pastikanlah bahwa plastiknya cukup kuat (tidak meleleh jika direndam dalam air panas)
- Jangan pakai botol susu yang berwarna / bergambar, karena ada kemungkinan catnya meleleh jika terkena panas
- Jangan lupa bubuhkan label setiap kali Ibu akan menyimpan botol ASI,
dengan mencantumkan tanggal dan jam ASI dipompa/peras
- Simpan ASI di dalam botol yang tertutup rapat (jangan ditutup dengan dot,karena masih ada peluang untuk berinteraksi dengan udara)
- Jika dalam satu hari Ibu memompa/memeras ASI beberapa kali, bisa saja Ibu menggabungkan hasil pompa/perasan tsb dalam botol yang sama, dengan catatan bahwa suhu tempat botol disimpan stabil, antara 0 s/d 15 derajat Celcius).
Penggabungan hasil simpanan ini bisa dilakukan asalkan jangka waktu
pemompaan/pemerasan pertama s/d terakhir tidak lebih dari 24 jam
BAGAIMANA CARA PEMBERIAN ASI YANG SUDAH DIDINGINKAN KEPADA BAYI?
- Panaskan ASI dengan cara:
(a) membiarkan botol dialiri air panas (bukan mendidih) yang keluar dari
keran
ATAU
(b) merendam botol di dalam baskom / mangkuk yang berisi air panas (bukan mendidih) - Jangan sekali-sekali memanaskan botol dengan cara mendidihkannya dalam
panci, menggunakan microwave atau alat pemanas lainnya (kecuali yang memang di-design untuk memanaskan botol berisi simpanan ASI) - Ibu tentunya mengetahui berapa banyak bayi Ibu biasanya sekali meminum
ASI. Sesuaikanlah jumlah susu yang dipanaskan dengan kebiasaan tsb. Misalnya dalam satu botol Ibu menyimpan sebanyak 180 cc ASI tetapi bayi Ibu biasanya hanya meminum 80, jangan langsung dipanaskan semua. INGAT bahwa susu yang sudah dipanaskan tidak bisa disimpan lagi!
BAGAIMANA SAYA MENGETAHUI APAKAH ASI YANG DISIMPAN SUDAH BASI?
Sebenarnya jika Ibu mengikuti pedoman pemompaan/pemerasan ASI dan penyimpanan yang baik, ASI tidak akan mungkin basi. Kadang memang setelah disimpan / didinginkan akan terjadi perubahan warna dan rasa, tapi itu tidak menandakan bahwa ASI sudah basi. Asalkan Ibu berada dalam keadaan bersih ketika memompa/memeras, menyimpan ASI dalam botol yang steril & tertutup rapat, dalam jangka waktu yang dijabarkan seperti di atas dan saat memanaskan juga mengikuti petunjuk, mudah-mudahan ASI Ibu terjaga dalam kondisi yang baik. Dibandingkan susu formula, ASI lebih tahan lama. Pada saat berinteraksi dengan udara luar, biasanya yang terjadi bukan pembusukan ASI tetapi lebih merupakan berkurangnya khasiat ASI, terutama zat yang membantu pembentukan daya imun bayi. SELAMAT ! Bayi Ibu sungguh beruntung memiliki Ibu yang menyadari betul arti dan manfaat pemberian ASI dalam awal kehidupannya. Semoga ia tumbuh sehat dan selalu berada dalam lindungan Tuhan. Amiin. ------------------------------------------------------------------------ Nara Sumber:
Barger, J. and Bull, P.A., Comparison of the bacterial composition of breast milk stored at room temperature and stored in the refrigerator. Intl Journal of Childbirth Ed 2: pages 29 and 30 1987. Hamosh, M. et al., Breastfeeding and the working mother effect of time and temperature of short term storage on proteolysis, lipolysis, and bacterial growth in milk. Pediatrics 97 (4) 492 to 498, 1996 Mohrbacher, N. and Stock, J., The Breastfeeding Answer Book, La Leche League International, 1997, pp 30 to 31. Pardou, A. et al., Human milk banking: influence of storage processes and of bacterial contamination on some milk constituents. Biol Neonate 65:302 to 309, 1994